Kalah koq bangga?
Tulisan saya sebelumnya bahwa Indonesia harusnya bisa masuk piala dunia dan seharusnya tidak lagi sekelas dengan tim macam Thailand, Malaysia atau Singapura rasanya sedikit banyak terbukti di pertandingan-pertandingan AFF kemarin. Kita jadi tim yang paling agresif dan menyerang. Kecepatan kita begitu ditakuti lawan. Bayangkan, dari 11 pemain yang bermain ternyata hampir semua berhasil mencetak gol. Bahkan Philipine yang punya pemain kelas super pun takluk oleh Indonesia. Ini yang namanya sepak bola Indonesia kawan!
Kalau sedemikian hebatnya kenapa gak jadi juara juga? Karena kita belum mengerti apa-apa soal sepakbola modern! Yup, mungkin kalau Timnas sekarang dibawa ke tahun 60-an bukan gak mungkin kita bisa menang piala dunia. Tapi ini tahun 2010, sudah berbeda era dan jaman. Dalam sepak bola modern mempunyai skill, daya juang dan kerja sama tim hanya merupakan hal kecil dari sebuah skenario besar yang seharusnya sudah dirancang jauh-jauh hari sebelumnya.
Kita tidak mengerti bahwa ada latihan fisik khusus guna meningkatkan daya tahan. Kita seolah pasrah dengan pemberian Tuhan akan fisik kita yang ada sekarang. Contohnya kamu tahu Vo2max? Itu adalah istilah untuk kemampuan tubuh menyerap oksigen! Fungsinya apa? Vo2max digunakan ketika kita hendak meledakan tenaga (berlari sprint, berkelok-kelok), menjaga daya tahan alias endurance, dan menjaga suplai oksigen ke otak supaya bisa tetap konsentrasi.
Sebagai perbandingan Pemain profesional macam Ronaldo punya Vo2max, 82 ml/min/kg. Mau tahu berapa rata-rata Vo2max pemain liga di Indonesia? 56 ml/min/kg. Gak heran ketika Alfred Ridle mengajak pemain Timnas berlatih pertama kali, mereka langsung muntah-muntah (dalam arti sebenarnya), karena kondisi fisik yang gak mendukung. Dan gak heran jika pemain belakang kita kesulitan mengejar top scorer Safee asal malaysia di pertandingan kemarin.
Kita juga masih belum paham bahwa faktor makanan sangat berpengaruh pada performa pemain. Buktinya diet ketat yang sudah diatur pelatih dengan santainya dilanggar karena pemain Timnas diajak makan bersama di rumah salah seorang politisi. Itu yang mengundang makan tahu gak sih kalau makan lemak itu akan bikin kita cepat lelah? Gimana bisa konsen bermain kalau perut mules-mules habis makan cabe kebanyakan?
Kita juga belum paham bahwa ekspose berlebihan media bisa membuat kacau konsentrasi individu dan kerjasama tim. Itu kenapa kalau di luar negeri ada sesi untuk pers setelah tanding. Dan setelah jumpa pers selesai sebisa mungkin pemain dijauhkan dari hingar bingar pers. Ini demi untuk menjaga konsentrasi. Itu semua harusnya udah diatur juragan!
Kita juga belum mengerti apa sih yang dimaksud dengan pembinaan sejak dini. Sudah pernah dengar cerita Lionel Messi? Pemain bertinggi badan 168 ini pernah hampir gagal jadi pemain sepak bola profesional. Penyebabnya karena ketika dia akan masuk tim di umur 11 tahun dirinya dites untuk mengetahui kemungkinan pertumbuhannya. Hasil test itu menunjukan messi hanya akan tumbuh hingga 140 cm saja di masa dewasanya (terlalu pendek untuk atlit sepak bola).
Namun, talentanya yang luar biasa membuat club barcelona terpanggil untuk membayarinya terapi untuk meninggikan badan. Dan hasilnya terbukti lionel messi bisa melebihi tinggi prediksi semula yang hanya 140 cm itu.
Lalu kita masih mau pakai alasan fisik pemain kita pendek-pendek? Gak sesuai standar? Itu semua bisa diatasi koq! Makanya carilah pemain yang bertalenta sejak muda. Ikutkan test kemungkinan tinggi dan postur badan itu. Kalau ternyata kurang, sudah ada koq teknologi yang bisa digunakan untuk menolong tinggi badannya macam yang digunakan messi dulu. Tuh baru tau khan kalau sepak bola modern bisa begini!
Ini baru sebagian kecil dari skenario besar yang saya maksud tadi. Hasil pertandingan sepakbola bukan hanya ditentukan dari latihan empat bulan sebelum tanding. Ini merupakan perjalanan yang panjang menuju kemenangan.
Lantas kenapa bangga? Karena dengan “kedunguan” kita (baca:serta pengurus sepak bola kita) akan sepak bola modern tapi toh ternyata pemain Timnas kita masih bisa menunjukan talenta dan semangat juang macam pertandingan selama AFF kemarin. Ini sih sudah cukup bikin saya bangga! Sekali lagi saya bilang, dengan atmosfer sepak bola di masyarakat Indonesia sudah selayaknya kita membidik tinggi menuju piala dunia. Bayangkan seram dan sangarnya tim kita seandainya nanti sudah menjalankan skenario sepak bola modern!
Bravo Timnas!