Blog vs media massa, menang siapa?
Sudah dua bulan lebih ini saya bermasalah dengan media massa. Ceritanya bermula ketika saya diajak dan ditawarkan untuk menjadi kontributor lepas (freelance) salah satu media online. Setelah beberapa kali melakukan liputan dan mengirimkan tulisan untuk mereka, saya pun mulai menagih fee yang dimaksud.
Namun bukan bayaran yang saya dapat tapi justru saya direpotkan harus bolak-balik mengurus ini itu dan dipingpong sana sini. Beberapa surat resmi melalui elektronik akhirnya saya layangkan ke pihak manajemen mereka. Sayang setelah lewat dua bulan tanggapannya tetap nihil.
Sampai akhirnya saya memutuskan untuk menuliskan keluhan pada salah satu blog yang saya miliki (bukan blog ini). Rupanya tulisan blog tersebut dibaca oleh pihak media online itu. URL blog saya di posting dalam milis dengan cc beberapa petinggi mereka.
Di luar dugaan, tidak sampai satu hari, keluhan saya langsung mendapat tanggapan. Mulai dari bagian surat pembacanya, HRD, General Affair hingga bagian sales dan marketing (saya mengerjakan artikel advetorial) menelfon saya.
Saya pun diundang untuk datang ke kantornya. Disana, mereka meminta maaf atas keteledoran dan berjanji akan membayar tagihan dimaksud dalam lima hari kerja ke depan. Saya pun menandatangai surat-surat untuk kepentingan tersebut. Meski tidak dibayar saat itu juga, setidaknya kali ini saya sudah melihat ada respon dari pihak yang berkepentingan. Sedikit banyak itu sudah bikin saya seneng.
Lantas apa ini berarti indikasi kalau blog lebih powerfull dari media massa? Jelas saya tidak mau loncat dalam kesimpulan itu. Rasanya naif kalau mengatakan blog saya yang alakadarnya itu lebih unggul dibandingkan media dot com dengan dana ratusan miliar rupiah dan sudah punya 13 juta page view per harinya (data 13 juta page view ini pernah disebut oleh Direktur teknik mereka dalam sebuah kesempatan). Dengan kekuatan macam begitu, rasanya mudah bagi mereka kalau ingin membalikan opini kepada blogger macam saya. Tapi toh itu tidak dilakukan.
Meski kecil tapi blog memang punya keunikan tersendiri. Pembaca blog, relatif memiliki kedekatan dengan penulisnya, ini yang sulit disaingi oleh media massa. Tak heran jika ditangan blogger yang bisa menulis, blog mampu menggiring opini orang lain dengan mudah. Dan ini pula yang jadi kekuatan utama blog.
Sayangnya banyak diantara kita para blogger (sering kali termasuk saya) yang tidak sadar akan kekuatan besar ini. Bahkan kita cenderung sering menggunakan kekuatan ini dengan kurang bijak. Beda dengan media massa konvensional, kita tidak punya layer untuk filter (dari reporter, ke penulis, ke editor, ke redaktur hingga pemred). Kita cuma sendiri dan kitalah yang selayaknya jadi filter, apa yang musti ditulis dan apa yang tidak.
Sebel dengan tokoh tertentu kita tulis. Ada info dari bbm, wall fb, twitter langsung kita tulis di blog. Kita tidak pernah lagi menyempatkan diri untuk check and richeck walaupun itu sekedar menggoogle info tambahan. Lantas apa jadinya kalau yang kita tulis itu fitnah atau salah tanpa kita periksa lebih dulu, sementara kekuatan blog sedemikian hebatnya?
Mengutip dari film Spiderman “With great power comes great responsibility”.